Sunday, November 09, 2008

Coba Lagi Di Sini

Di sini aku coba lagi
Maklum sedang membanagun tanah yang tak gelisah

Wednesday, April 30, 2008

Mencoba MP

Tes
di coba
satu dua ti...ga

coba di coba

Saturday, July 29, 2006

Paradigma Dakwah Kampus

Dakwah kampus harus tetap berjalan teguh di atas kaidahnya. Dakwah ammah harokah zohiroh. Tidak rela rasanya jika dibiarkan menjadi semakin sempit wilayah dengan centang perenangnya pemahaman para pengusungnya. Lusuhnya paradigma bisa menciderai kaidah yang sudah ada. Menurukan produktifitasnya. Memperlambat capaian capainnya dan mengelamkan impian akan masa depan kejayaan islam. Harapan menjadikan LDK sebagai tempat yang paling nyaman bagi siapa saja bisa-bisa menjadi semakin mengwang. Apalagi dakwah hari ini harus lebih berani membuka diri untuk peluang ekspansi yang sebesar-besarnya.

Kran-kran komunikasi dan pelibatan semua segmentasi menjadi tuntutan besar yang harus diseriusi. Kekhawatiran yang terlalu besar menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Sehingga dakwah kampus harus tampil dengan platform resminya. Dakwah yang terbuka dengan jangkauan lebih luas. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Memberikan senyuman tulus tanpa kira latar belakangnya. Dakwah berbasis kader tidak bisa diartikan dengan pandangan sempit. dakwah hanya diperuntukkan bagi mereka yag berpeluang menjadi kader.

Dakwah kampus yang solid, alit dan elit patut menjadi platform resmi. Solid secara structural dan cultural. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Civitas akademika seperti masdokar (mahasiswa dosen dan karyawan) perlu menjadi perhatian seirus. Sehingga tidak ada kapling-kapling wilayah. Semuanya menjadi segmentasi yang perlu disentuh secara elegan. Sentuhan yang unik, menarik dan simpatik tentu akan lebih mudah diterima. Apalagi didukung dengan pencitraan yang melembaga dan terkoordinasi.
Kekhawatiran yang tidak beralasan menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Nuansa pelibatan yang minim menjadikan ia makin melekat dengan citra ekslusifnya. Objek yang semakin menjauh dan dijauhi Terlanjur di identifikasi sebagai seorang yang kurang berpeluang menjadi kader atau bahkan terlabeli sebagai calon penggangu system. Pada hal para pengusungnya mesti sadar. Bahwa mereka dahulunya juga punya latar belakang yang tidak terlalu baik. Bahkan bisa jadi lebih buruk dari mereka. Baru-baru taubat. Itupun taubat sambalado. Lalu atas dasar apa kita menghalangi mereka untuk terlibat dalam dakwah kampus. Sementara kita terlanjur tengelam dengan pemahaman dakwah amah harokah zohirah. Bukankah kita melihat bagaimana para pendahulu dawkah kampus melakukan aktifitasnya dengan segala kreatifitas untuk menangkap objek yang seluas-luasnya. Kalau kekhawatiran yang tidak beralasan tetap menjadi suatu paradigma maka ada baiknya kaidah dakwah kampus dirubah dari dakwah ammah harokah zohirah.

DAHZ

Dakwah kampus harus tetap berjalan teguh di atas kaidahnya. Dakwah ammah harokah zohiroh. Tidak rela rasanya jika dibiarkan menjadi semakin sempit wilayah dengan centang perenangnya pemahaman para pengusungnya. Lusuhnya paradigma bisa menciderai kaidah yang sudah ada. Menurukan produktifitasnya. Memperlambat capaian capainnya dan mengelamkan impian akan masa depan kejayaan islam. Harapan menjadikan LDK sebagai tempat yang paling nyaman bagi siapa saja bisa-bisa menjadi semakin mengwang. Apalagi dakwah hari ini harus lebih berani membuka diri untuk peluang ekspansi yang sebesar-besarnya.

Kran-kran komunikasi dan pelibatan semua segmentasi menjadi tuntutan besar yang harus diseriusi. Kekhawatiran yang terlalu besar menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Sehingga dakwah kampus harus tampil dengan platform resminya. Dakwah yang terbuka dengan jangkauan lebih luas. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Memberikan senyuman tulus tanpa kira latar belakangnya. Dakwah berbasis kader tidak bisa diartikan dengan pandangan sempit. dakwah hanya diperuntukkan bagi mereka yag berpeluang menjadi kader.

Dakwah kampus yang solid, alit dan elit patut menjadi platform resmi. Solid secara structural dan cultural. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Civitas akademika seperti masdokar (mahasiswa dosen dan karyawan) perlu menjadi perhatian seirus. Sehingga tidak ada kapling-kapling wilayah. Semuanya menjadi segmentasi yang perlu disentuh secara elegan. Sentuhan yang unik, menarik dan simpatik tentu akan lebih mudah diterima. Apalagi didukung dengan pencitraan yang melembaga dan terkoordinasi.
Kekhawatiran yang tidak beralasan menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Nuansa pelibatan yang minim menjadikan ia makin melekat dengan citra ekslusifnya. Objek yang semakin menjauh dan dijauhi Terlanjur di identifikasi sebagai seorang yang kurang berpeluang menjadi kader atau bahkan terlabeli sebagai calon penggangu system. Pada hal para pengusungnya mesti sadar. Bahwa mereka dahulunya juga punya latar belakang yang tidak terlalu baik. Bahkan bisa jadi lebih buruk dari mereka. Baru-baru taubat. Itupun taubat sambalado. Lalu atas dasar apa kita menghalangi mereka untuk terlibat dalam dakwah kampus. Sementara kita terlanjur tengelam dengan pemahaman dakwah amah harokah zohirah. Bukankah kita melihat bagaimana para pendahulu dawkah kampus melakukan aktifitasnya dengan segala kreatifitas untuk menangkap objek yang seluas-luasnya. Kalau kekhawatiran yang tidak beralasan tetap menjadi suatu paradigma maka ada baiknya kaidah dakwah kampus dirubah dari dakwah ammah harokah zohirah.

Wednesday, July 26, 2006

FSLDK:Menuju Pergulatan Pemikiran

Puji Syukur untuk Allah azza wajallah. Telah dijadikannya kita terhimpun dalam barisan dakwah. Semoga kita tetap istiqomah dan pengembanannya. Amiin.
Selawat dan salam untuk Rasulullah Saw. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Saudaraku. Kembali kita berhimpun dalam majelis syuro FSLDK. Entah untuk kali yang ke berapa. Sudah banyak tentunya. Semoga memberi manfaat besar terhadap diri dan ummat. Semoga aroma kebangkitan itu kian terasa. Mewangi di sepanjang hari-hari. Dan kitapun bisa mengapresiasikannya sejauh kita bisa. Sekuat kemampuan. Mempertebal tekad dan kemauan. Hingga makin menyadarkan betapa besar cita-cita kita. Yang memunculkan kesadaran bahwa semuanya tidak mungkin hanya diusung dengan amalan yang ala kadarnya. Makin meyakinkan kita Allah senantiasa bersama hamba-hambaNya yang berjuang di Jalan-Nya.
Saudaraku…Kebangkitan selalu di awali kelemahan. Kelemahanlah yang menjadikan diri serasa tak berdaya. Hingga dalam kelemahan itu jualah muncul banyak kesadaran. Kesadaran untuk mencoba berbenah. Mempersiapkan segala instrument instrumen penting pendukung kebangkitan. Kita butuh kekuatan. Energi besar untuk menggerakkan. Berangkat meninggalkan kelemahan itu. Berusaha menjayakan negeri. Sedikit demi sedikit dan perlahan. Dengan penuh kesabaran akan kita rakit menjadi fenomena unik dalam menjemput masa depan Islam. Menyongsong kebangkitan. Kebangkitan Islam yang telah lama di nantikan. Yang lebih dramatis dari revolusi Perancis. Yang lebih canggih dari revolusi Industri. Hingga semua mata akan terbelalak. Kebimbangan akan sirna. Allah saja tujuan segalanya.
Sudah menjadi catatan di pentas sejarah. Episode kebangkitan diawali dengan kebangkitan pemuda. Disetiap irama kebangkitan pemuda menjadi inti kekuatanya. Disetiap debutnya pemuda yang ikhlas, mawas lagi cerdas sebagai barisan intinya. Maka menyiapkan pemuda-pemuda adalah langkah strategis dan praktis untuk mengembalikan kegemilangan Islam. Dengan demikian pembinaan pemuda menjadi suatau yang tidak boleh terabaikan.
Bila kebangkitan islam itu dari timur, mungkinkah Indonesia sebagai pusatnya? Beratus juta jiwa kaum muslimin di dalamnya. Negara dengan kaum muslimin terbesar di dunia. Kalau memang demikian, adakah kita sebagai kontributornya? Kelak, semua akan semakin menyadari. Mungkin kitalah generasi yang sejak dulu dinanti-nantikan itu. Amin.

PUSKOMNAS FSLDK
FKI RABBANI UNIVERSITAS ANDALAS
(Hasdi, Dismal, Devid, Atiza, Wina, Fathi, Fitria, Defi, Yuhelna, Endah, Wery, Anis, Chani )