Paradigma Dakwah Kampus
Dakwah kampus harus tetap berjalan teguh di atas kaidahnya. Dakwah ammah harokah zohiroh. Tidak rela rasanya jika dibiarkan menjadi semakin sempit wilayah dengan centang perenangnya pemahaman para pengusungnya. Lusuhnya paradigma bisa menciderai kaidah yang sudah ada. Menurukan produktifitasnya. Memperlambat capaian capainnya dan mengelamkan impian akan masa depan kejayaan islam. Harapan menjadikan LDK sebagai tempat yang paling nyaman bagi siapa saja bisa-bisa menjadi semakin mengwang. Apalagi dakwah hari ini harus lebih berani membuka diri untuk peluang ekspansi yang sebesar-besarnya.
Kran-kran komunikasi dan pelibatan semua segmentasi menjadi tuntutan besar yang harus diseriusi. Kekhawatiran yang terlalu besar menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Sehingga dakwah kampus harus tampil dengan platform resminya. Dakwah yang terbuka dengan jangkauan lebih luas. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Memberikan senyuman tulus tanpa kira latar belakangnya. Dakwah berbasis kader tidak bisa diartikan dengan pandangan sempit. dakwah hanya diperuntukkan bagi mereka yag berpeluang menjadi kader.
Dakwah kampus yang solid, alit dan elit patut menjadi platform resmi. Solid secara structural dan cultural. Akrab dan bersahabat dengan siapa saja. Civitas akademika seperti masdokar (mahasiswa dosen dan karyawan) perlu menjadi perhatian seirus. Sehingga tidak ada kapling-kapling wilayah. Semuanya menjadi segmentasi yang perlu disentuh secara elegan. Sentuhan yang unik, menarik dan simpatik tentu akan lebih mudah diterima. Apalagi didukung dengan pencitraan yang melembaga dan terkoordinasi.
Kekhawatiran yang tidak beralasan menjadikan dakwah kampus makin terkungkung dalam lautan peluang yang tidak dimanfaatkan. Nuansa pelibatan yang minim menjadikan ia makin melekat dengan citra ekslusifnya. Objek yang semakin menjauh dan dijauhi Terlanjur di identifikasi sebagai seorang yang kurang berpeluang menjadi kader atau bahkan terlabeli sebagai calon penggangu system. Pada hal para pengusungnya mesti sadar. Bahwa mereka dahulunya juga punya latar belakang yang tidak terlalu baik. Bahkan bisa jadi lebih buruk dari mereka. Baru-baru taubat. Itupun taubat sambalado. Lalu atas dasar apa kita menghalangi mereka untuk terlibat dalam dakwah kampus. Sementara kita terlanjur tengelam dengan pemahaman dakwah amah harokah zohirah. Bukankah kita melihat bagaimana para pendahulu dawkah kampus melakukan aktifitasnya dengan segala kreatifitas untuk menangkap objek yang seluas-luasnya. Kalau kekhawatiran yang tidak beralasan tetap menjadi suatu paradigma maka ada baiknya kaidah dakwah kampus dirubah dari dakwah ammah harokah zohirah.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home